Pelangi Tak Pernah Hilang

 

Pelangi Tak Pernah Hilang

 

Aulia Dewi Santika, atau biasa disapa Aulia. Seorang mahasiswi dari salah satu  Perguruan Tinggi Negeri yang ada di daerah Borneo. Dia merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara. Sejak menginjak usia 4 tahun, ia sudah kehilangan sosok ayah. Ayahnya meninggal karena kecelakaan saat bekerja diluar kota yang jauh dari keluarga, ayahnya merantau sejak Aulia menginjak umur 1 tahun. Ia menjalani kehidupan sehari-harinya dengan membantu sang ibu bekerja demi mencukupi biaya hidup mereka. Bagi seorang anak perempuan sangat tidak mudah menjalani hidup tanpa seorang ayah. Suka maupun duka sudah ia lalui dalam hidupnya. Walaupun dengan kondisi yang terbatas, tidak mengurangi rasa semangatnya untuk menggapai cita-cita.

Saat Aulia lulus SMA, ia mulai memikirkan keinginannya untuk memasuki Kampus yang ada di Borneo dengan hasil yang selama ini ia raih dan  kumpulkan, dengan bekerja sebagai penjual kue keliling yang dibuat ibunya. Di dinding kamarnya terdapat banyak piagam penghargaan yang ia raih selama menempuh pendidikan di kampung halamannya.

Saat ia pergi ke sekolah untuk mengambil Surat Keterangan Lulus SMA, ia melihat selembaran yang tertempel di mading, isi selembaran tersebut berisikan tentang beasiswa kuliah jalur prestasi yang terletak di Borneo. Seperti mendapatkan jalan untuk ia melanjutkan pendidikannya.

Dengan penuh rasa semangat, ia segera pulang ke rumah dan memberitahu ibu bahwa ia memiliki kesempatan dan tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Mendengar cerita dari sang anak, ibunya mulai mempertimbangkan dengan kondisi keluarganya yang saat ini. Aulia menjelaskan bahwa beasiswa ini tidak mengeluarkan biaya, hanya saja ia membutuhkan biaya untuk merantau ke Borneo dan biaya hidupnya di sana.

Ibunya  sempat ragu karena Aulia tidak pernah berpisah jauh dengan ibu dalam waktu yang cukup lama, ia juga cemas jika Aulia sendirian disana. Namun Aulia tetap berusaha untuk meyakinkan ibunya bahwa ia selama ini diam-diam sudah menyisihkan uang jajannya yang ia rencanakan untuk merantau, dia juga meyakinkan ibunya bahwa ini adalah kesempatan yang selama ini ia nantikan dan ia berjanji akan baik-baik saja dengan selalu memberi kabar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Akhirnya  setelah berfikir panjang ibunya memberikan izin kepada Aulia untuk merantau ke Borneo, dengan segala harapan agar Aulia bisa mewujudkan cita-citanya. Terlebih lagi Aulia adalah anak terakhir yang di harapkan bisa mengangkat derajat keluarganya.

Saat malam harinya, Aulia memutuskan untuk memecahkan celengan ayamnya yang sudah ia isi sejak ia duduk di bangku SMP. Mendengar suara barang pecah dari kamar Aulia, ibunya segera menuju ke kamar Aulia. Ibu melihat tabungan Aulia cukup banyak, ternyata Aulia selama ini hanya jajan seperlunya saja bahkan sekali-kali ia tidak jajan di kantin seperti teman-teman lainnya demi menyisihkan sebagian uangnya untuk di tabung.

Sebenarnya ibu juga sudah menyiapkan tabungan untuk biaya pendidikan Aulia, hal tersebut diketahui Aulia, ia lantas menyuruh ibu untuk menyimpan uang tersebut untuk keperluan ibu di rumah selama Aulia di Borneo jika ia lulus beasiswa nanti, yang tidak bisa lagi membantu ibu berjualan kue.

Ibu sedih memeluk Aulia begitu erat karena Aulia berbeda dari teman-teman lainnya bahkan berbeda dengan ke-2 kakaknya yang kini sudah berkeluarga dan kakak pertamanya sudah pindah rumah mengikuti suami namun masih satu kampung dengan ibunya. Ibu berharap Aulia dapat mewujudkan cita-citanya dan merasakan kebahagiaan seperti teman-teman lainnya.

Di sela waktu kesibukannya, Aulia selalu menyempatkan untuk belajar dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tidak ketinggalan dengan materi-materi yang harus dipelajari, ia belajar karena khawatir tidak lulus beasiswa jalur prestasi tersebut jadi ia harus menyiapkan semuanya dari awal. Aulia pergi ke salah satu warnet untuk mencari bahan materi tes tersebut. Aulia tidak sendirian, ternyata sahabatnya bernama Rima juga punya keinginan yang sama seperti Aulia. Mendengar hal tersebut, ibu Aulia menjadi sedikit lebih tenang karena anaknya nanti tidak sendirian.

Rima adalah anak dari Kepala Desa di kampungnya, rumah Rima tak jauh dari rumah Aulia, namun kehidupan Aulia tak seberuntung Rima yang merupakan anak tunggal (kesayangan) yang serba berkecukupan. Rima selalu bersekolah di sekolah swasta ternama di daerahnya. Meskipun begitu, Rima tidak sombong dan sering berbagi dengan siapapun termasuk Aulia.

Mereka belajar bersama karena ingin kuliah di Kampus yang sama. Aulia tak seperti Rima yang memiliki banyak waktu untuk belajar karena Aulia harus membantu ibu di waktu pagi hingga sore. Tak jarang bila Rima sesekali membantu Aulia juga.

Sebagian dari hasil tabungan Aulia digunakan untuk membeli gawai canggih untuk memudahkan dalam mencari informasi lebih banyak soal kuliahnya dan ia juga membelikan hadiah untuk ibunya tepat pada hari ulang tahun sang ibu. Ternyata ia membeli baju yang selama ini ibu inginkan dan ia juga membeli gawai yang tidak terlalu canggih untuk ibu agar nanti ia bisa terus memberi kabar untuk ibu saat ia merantau.

Aulia mulai mengurus segala berkas-berkas sebagai syarat agar ia bisa mendapatkan beasiswa prestasi dan mendapat Kartu Indonesia Pintar, ia dibantu oleh ayah Rima untuk mengurus SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan KIP.

Aulia sekarang berada di rumah Rima karena hari ini adalah hari pendaftaran  Perguruan Tinggi Negeri jalur prestasi yang dilakukan secara Online . Dengan penuh rasa percaya diri dan usaha yang telah ia lakukan, serta tak lupa memanjatkan doa akhirnya ia bisa menyelesaikan pendaftaran tersebut bersama Rima. Apa pun hasil yang ia dapatkan, ia menerimanya dengan lapang dada. Karena ia yakin bahwa pelangi akan berwarna di waktu yang tepat.

Saat  ia sudah tiba di rumah, ia langsung mengganti pakaian dan membantu ibu, saat ini ibu sedang kurang enak badan, di usia ibu yang tidak muda lagi ini ibu sangat rentan dan sering sekali sakit. jadi segala pekerjaan rumah ia kerjakan sendiri.

Malam harinya ia menyiapkan makan malam untuk ibu dan memberi ibu obat yang biasa ibu minum. Setiap ibu kurang sehat, ibu hanya meminum obat warung karena setiap kali di ajak berobat ibu selalu menolaknya dan selalu bilang bahwa ibu baik-baik saja.

Positive Thinking 

Aulia sangat optimis bisa kuliah di tempat yang ia inginkan, sambil menunggu pengumuman dari pihak Kampus, ia mencari-cari informasi tentang kos-kosan dan tentang daerah Borneo bersama Rima. Mereka mendapatkan kos-kosan yang tidak jauh dari Kampus tersebut untuk 2 orang dan harga yang lumayan terjangkau. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi ibu kos tersebut. Dengan segala keyakinan mereka setuju untuk ngekos di daerah tersebut, mereka khawatir  jika menunggu hasil pengumuman terlebih dahulu baru mem-booking takut sudah penuh dan tidak dapat di daerah dekat kampus.

Hari ini adalah hari yang sangat deg-degan bagi mereka berdua karena hari ini adalah pengumuman hasil nilai mereka. Dengan segala harapan Aulia belum membuka pengumuman tersebut karena ia ingin Shalat Magrib terlebih dahulu, pengumuman dibuka pada pukul 5 sore. Rima ternyata sudah membuka hasil tersebut dan tertulis “Selamat, Anda dinyatakan lulus”. Mendengar kabar dari Rima, Aulia ikut senang dan sangat berharap jika ia juga mendapatkan hasil yang sama. Setelah selesai Shalat, Aulia segera membuka pengumuman tersebut dan benar saja bahwa Aulia diterima di Kampus tersebut sebagai mahasiswi yang mendapatkan KIP (Kartu Indonesia Pintar). Ibu sangat senang sekaligus sedih karena akan pisah jauh dengan Aulia.

Sabar dan Syukur Kunci Kebahagiaan

Sepertinya pelangi di hidup Aulia sudah mulai bersinar karena pencapaian tersebut. Ibu bicara pada Aulia, bahwa dari sejak tangisan pertama Aulia saat lahir sudah menjadi pelangi bagi ke dua orang tuanya. Bayi yang lahir seperti sudah memperlihatkan bahwa ia akan tumbuh menjadi pelangi untuk orang sekitar. Setelah kepergian sang ayah, ibu tampak kehilangan pelangi dalam hidupnya. Namun seperti pelangi yang datang tak setiap saat, tetapi Aulia sudah menjadi pelangi setiap hari bagi sang ibu yang selalu memberi warna. Ibu banyak mendapatkan kejutan dari Aulia, mulai dari prestasi-prestasi yang Aulia dapatkan hingga ketulusan Aulia dalam menjalani hidupnya dengan ikhlas dan semangat di kondisi yang berbeda dari teman-temannya.

Hari mulai berlalu, Aulia dan Rima sudah menyiapkan segala keperluan mereka untuk merantau ke Borneo. Saat Aulia pamit dengan ibu, ibu sangat sedih harus berpisah untuk waktu yang cukup lama dengan Aulia. Ibu sudah menyiapkan makanan untuk bekal Aulia di perjalanan serta ibu juga memberi kotak kecil berisi buku catatan kosong untuk Aulia menulis keseharian ia selama di Borneo agar saat Aulia pulang nanti ibu bisa mambaca cerita tersebut dan di dalam kotak tersebut juga terdapat surat yang  ternyata adalah surat dari ayah yang dibuat saat Aulia berumur genap 1 tahun. Ayah membuat surat tersebut seolah akan berpisah jauh dengan Aulia.  Membaca surat tersebut lantas membuat Aulia menangis.

untuk Aulia Dewi Santika, dari ayah yang sangat sayang dengan Aulia. Aulia harus tumbuh menjadi anak yang kuat, walaupun ayah tidak selalu ada untuk Aulia tapi ayah selalu mendoakan Aulia agar menjadi anak yang dapat memberi warna disetiap orang yang berada disekitar Aulia. Aulia adalah putri cantik yang selalu menjadi putri kecil ayah, Aulia akan selalu jadi anak yang membuat ayah semangat bekerja dan membuat ayah selalu merindukan pulang ke rumah. Ayah memang tak bisa menyaksikan langsung putri bungsu ayah tumbuh menjadi putri yang dewasa namun ayah harap Aulia tak pernah kekurangan kasih sayang karena ibu adalah ibu terbaik untuk Aulia dan kakak-kakak. Maafkan ayah yang tidak sepenuhnya berada didekat Aulia, maafkan ayah yang tidak sepenuhnya memberi kasih sayang untuk Aulia tumbuh menjadi gadis seperti kakak-kakak kamu. Ayah akan kembali setelah pekerjaan ayah selesai, Aulia harus berjanji untuk menjadi penyemangat untuk ibu. Aulia juga harus berjanji akan membuat bangga ayah & ibu dengan hasil yang Aulia capai nanti. Ayah akan titipkan surat ini kepada ibu dan akan ibu berikan disaat waktu yang tepat. Ayah harap kamu dapat menjadi seperti ibumu yang selalu sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan yang tidak mudah ini. Ayah sangat menginginkan pelangi untuk kesekian kalinya dari Aulia. Pelangi itu sudah ayah dapatkan saat tangisan pertama kamu, ayah yakin ibu pasti juga merasakan hal yang sama. Kamu harus tumbuh menjadi wanita kuat walaupun wanita selalu dianggap lemah secara fisik. Salam manis dari ayah untuk Aulia dan maafkan segala kekurangan yang kamu jalani

 

Begitulah isi surat dari ayah untuk Aulia. Aulia menangis dan memeluk ibu sambil barkata “Aulia tidak pernah merasa kekurangan selama Aulia menjadi anak ibu, Aulia juga tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang,kekurangan materi dan Aulia menjalani kehidupan ini dengan ikhlas, Aulia janji akan selalu menjadi pelangi untuk ayah dan ibu bahkan jauh lebih bersinar dari sebelumnya”

Walaupun Aulia ini anak bungsu, ia sama sekali tidak manja, ia tidak pernah menuntut keinginannya. Setelah berpamitan, Aulia dan Rima segera menuju kos-kosan yang memakan waktu cukup lama. Mereka sampai ke tempat tujuannya sudah malam hari. Karena lelah di perjalanan mereka belum sempat beres-beres kamar.

Saat pagi hari, mereka ke Kampus tempat dimana mereka akan kuliah. Mereka mencari informasi soal Kampus mereka. Setelah itu mereka berjalan ke taman yang tak jauh dari kampus untuk bersantai. Di taman tersebut mereka bertemu dengan seorang wanita yang kurang lebih saumuran dengan mereka sedang duduk di kursi taman. Aulia yang ramah tersebut menyapa dan berkenalan dengan wanita tersebut, ternyata setelah berbincang banyak rupanya wanita tersebut adalah teman satu kos mereka yang kamarnya bersebelahan. Ia bernama Amanda.

Aulia senang mendapat teman baru. Dengan wajah yang polos dan agak sedikit lugu, Aulia mulai mengabadikan setiap momen dengan kamera pada gawai yang belum lama ia beli.

Setelah mereka menghabiskan waktu untuk mempersiapkan diri, akhirnya waktu yang mereka tunggu pun telah tiba. Hari ini adalah hari pertama mereka menjadi mahasiswi, mereka mendapatkan tugas untuk mencari bahan-bahan OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) dari kakak tingkatnya. Saat selesai, mereka berbelanja di salah satu mini market terdekat dari kos mereka.

Di hari pertama mereka menjalani OSPEK tersebut mereka sudah banyak mendapat teman baru, semua teman-teman Aulia merupakan anak yang berkecukupan. Aulia agak sedikit minder, namun Rima sahabat baiknya selalu meyakinkan Aulia untuk terus percaya diri.

Masa-masa OSPEK telah berakhir, Aulia dan Rima sudah sedikit lebih sibuk karena tugas-tugas kuliah mereka. Waktu terus berjalan hingga segala keperluan Aulia semakin banyak dan tabungannya semakin menipis, hari-harinya Aulia selalu makan dengan lauk yang sederhana tetapi sekali-kali Rima membeli makanan untuk mereka berdua. Aulia sangat merindukan ibu dan mencoba menghubungi ibunya, ibu sangat senang dan kabar ibu baik-baik saja. Aulia menceritakan semua pengalamannya selama di Borneo dan tak lupa pula Aulia menuliskannya di buku catatan yang sudah ibu beri sesuai dengan janjinya, Aulia akan jaga diri baik-baik.

 

Setelah 3 bulan atau kurang lebih setengah semester, Aulia mulai jarang menghubungi ibunya karena sibuk akan melaksanakan Ujian Tengah Semester atau UTS. Rima mengajak Aulia untuk belajar bersama Amanda, mereka lupa mengunci pintu dan mereka tertidur di kamar Amanda.

Saat mereka bangun, mereka melihat seperti ada yang aneh di kamarnya dan benar saja, kamar mereka ternyata habis kemalingan, uang yang seharusnya Aulia gunakan untuk membeli laptop sudah hilang. Rima juga kehilangan sebagian uangnya.

Mereka segera melaporkan kejadian tersebut kepada ibu kos dan akan melihat cctv tadi malam. Ternyata cctv depan dan satu-satunya itu rusak sejak 2 hari yang lalu. Ibu kos sangat menyayangkan hal tersebut, pasalnya sejak 6 tahun terakhir kos-kosannya ini aman-aman saja dan tidak pernah ada kemalingan. Ibu kos menyarankan untuk semua anak yang berada disitu untuk lebih waspada lagi dan harus lebih berhati-hati serta ia akan memperbaiki cctv yang rusak secepat mungkin.

Aulia ragu untuk menghubungi ibu, ia takut ibu merasa cemas dengan keadaanya sekarang tetapi Aulia juga mempunyai firasat buruk. Benar saja, tak lama kemudian Aulia mendapat kabar dari kakaknya bahwa ibu jatuh sakit dan sekarang sedang berada di klinik terdekat.

Aulia benar-benar sedih, di satu sisi ia ingin pulang ke kampung tetapi di sisi lain ia harus mengikuti UTS yang baru selesai seminggu lagi. Rima berusaha untuk menghibur Aulia yang sekarang benar-benar membutuhkan teman. Rima yang tidak tega kepada Aulia segera menghubungi orang tuanya agar membantu ibu Aulia yang sedang sakit. Orang tua Rima menyuruh Rima merahasiakan tentang penyakit ibu Aulia saat ini, pasalnya Ibu Aulia terkena kanker darah yang masih besar kemungkinan untuk sembuh.

Rima juga sedih dan terus berusaha untuk tetap ada di samping Aulia. Aulia merasa sedikit lebih tenang dan dia bersyukur karena masih memiliki orang baik yang selalu berada di sampingnya. Aulia terus berdoa untuk kesembuhan ibunya, ia terus menanyakan kabar kepada kakaknya yang menyuruh Aulia untuk tidak terlalu cemas karena ibu akan baik-baik saja.

Waktu terus berjalan, kondisi ibu Aulia sudah membaik namun tidak sepenuhnya sembuh, dibutuhkan biaya besar agar ibu Aulia sembuh total. Penyakit ibu bisa saja kembali kambuh. Liburan semester akan tiba 1 minggu lagi, Aulia akan pulang ke kampungnya sedangkan Rima belum ada rencana mau pulang karena Rima sudah akrab dengan teman-teman yang lain, di rumah pun Rima hanya merasakan kesepian karena ia anak tunggal dan orang tua selalu sibuk.  

Sehari sebelum pulang, Aulia pergi membeli cemilan khas Borneo untuk ibu dan kakaknya. Aulia sudah tidak sabar pulang bertemu ibunya. Aulia di bantu Rima dan Amanda untuk packing barang-barang untuk pulang. Aulia berterima kasih kepada Rima dan Amanda karena sudah menemaninya di saat masa-masa sulit.

Hari ini Aulia sudah tiba di kampung halamannya, Aulia yang benar-benar merindukan ibu pun langsung memeluk erat melepas rindu. Aulia tetap diperlakukan ibu seperti anak kecil yang tidak akan pernah dewasa karena Aulia memang anak bungsu. Tetapi Aulia adalah perempuan yang dewasa dalam setiap mengambil keputusan.

Aulia beres-beres dan memberikan oleh-oleh yang sudah dibelinya. Setelah selesai beres-beres, ibu mengajak Aulia untuk makan siang. Aulia menceritakan pengalamannya disana tetapi Aulia tidak menceritakan soal kemalingan di kosnya, ia khawatir ibu akan cemas bila nanti Aulia pergi lagi.

Aulia juga menyuruh ibu untuk jaga kesehatan agar ibu bisa menyaksikan Aulia wisuda nanti. Setelah selesai makan, Aulia mencuci piring. Ibu yang melihat Aulia tampak kelelahan habis dari perjalan pun langsung menyuruh Aulia beristirahat.

Tidak terasa ternyata liburan sudah hampir habis, Aulia yang tak ingin melewatkan momen-momen bersama ibu segera mengajak ibu jalan-jalan sebelum ia kembali lagi ke Borneo.  Aulia berfoto bersama ibu agar nanti dapat dilihat kembali sebagai obat rindunya.

Tidak banyak kisah Aulia saat pulang ke kampung halamannya, jadi tidak terasa hari ini Aulia harus kembali lagi ke Borneo untuk malanjutkan kuliahnya.

Saat di perjalanan, bus yang di tumpangi Aulia mengalami musibah keserempet mobil, beruntungnya semua penumpang dan supir baik-baik saja, tetapi mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan karena bus mengalami kerusakan. Akhirnya seluruh penumpang beristirahat terlebih dahulu sambil menunggu bus lainnya.

Aulia mendapat telepon dari ibu yang ingin menanyakan kabar dari Aulia, ibu mengetahui bahwa bus yang Aulia tumpangi mengalami musibah. Aulia heran mengapa ibu bisa tahu hal tersebut, pasalnya ia tidak ada menceritakan hal ini kepada ibu. Ternyata ibu di beritahu oleh tetangganya yang merupakan ayah dari salah satu penumpang bus yang sama dengan Aulia.

Aulia menceritakan bahwa ia baik-baik saja dan menyuruh ibu untuk tidak khawatir terhadapnya. Hanya saja Aulia harus sampai ke tempat tujuannya besok pagi. Ibu sedikit lebih tenang dengan keadaan Aulia yang baik-baik saja. Aulia segera memberitahukan Rima bahwa ia akan sampai agak telat.

Tidak Perlu Iri Terhadap Orang Lain

            Saat Aulia sudah berada di kos, teman-teman lainnya banyak bekal dari orang tua mereka masing-masing, mereka saling bertukar oleh-oleh dan mereka banyak baju baru. Tidak seperti Aulia yang hanya memakai baju itu-itu saja dari awal masuk kuliah. Rima yang melihat Aulia seperti minder dengan teman-temannya pun langsung berencana untuk memesan baju online untuk Aulia.

Mengetahui hal tersebut, Aulia justru merasa tidak enak dengan Rima karena selalu merepotkan, namun Rima melakukan semua ini dengan ikhlas. Ia sangat berterima kasih.

            Sebenarnya Aulia tidak merasa iri dengan teman-temannya karena dari kecil Aulia sudah di ajarkan ibu untuk selalu bersyukur apapun yang ia punya saat ini. Aulia percaya bahwa setiap orang sudah di atur rezekinya masing-masing dan tak akan pernah tertukar.

            Perkuliahan sudah dimulai dan berjalan seperti biasanya, semua tampak lancar dan aman. Namun akhir-akhir ini Aulia merasa ada yang aneh dari  Rima, Rima sering pulang telat dan bahkan mulai sering menginap di kamar Amanda. Melihat hal itu, Aulia berfikir mungkin saja mereka ada tugas yang sama karena Aulia tidak satu kelas dengan Rima maka sudah jarang mengetahui hal tentang Rima.

            Keesokan harinya Aulia pulang agak telat karena ada urusan dengan dosen, Aulia tidak sengaja melihat Rima dan Amanda di taman kampus bersama dengan 2 orang pria yang jarang Aulia lihat sebelumnya. Aulia mendekat dan Rima mengetahui kedatangan Aulia, ia langsung menjelaskan bahwa pria tersebut adalah teman barunya, mereka kenal dekat saat Aulia pulang ke kampung kemarin.

            Namun Aulia tetap merasakan ada yang tidak beres terhadap mereka berdua karena sikap Rima dan Amanda benar-benar berubah. Bahkan malam ini pun Rima menginap bersama Amanda. Melihat keanehan sikap Rima selama ini, Aulia memberanikan diri untuk bertanya kepada Rima apa yang terjadi sebenarnya.

            Ternyata Rima mulai menyukai pria tersebut, Aulia sangat marah dengan Rima karena ia tidak mau Rima sampai lalai dengan kuliahnya, Aulia kembali mengingatkan Rima terhadap apa yang selama ini ia impikan. Ternyata ini pun menjadi salah satu alasan mengapa Rima tidak ikut pulang ke kampung saat libur kemarin.

            Rima kembali marah dengan Aulia, ia tidak mau Aulia mencampuri urusannya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak diinginkan hingga melukai perasaan Aulia, bahkan ia juga mengungkit kebaikan yang sudah ia lakukan terhadap Aulia. Aulia sangat sedih karena yang berada di hadapannya seperti bukan Rima yang ia kenal. Aulia menangis dan Rima pergi ke kamar Amanda karena tidak mau lagi sekamar dengan Aulia.

            Amanda mencoba menenangkan amarah Rima dan mencoba bicara baik-baik serta memberi nasehat kepada Rima untuk memikirkan hal tersebut dengan kepala dingin. Karena jika tidak, semua akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Mendengar hal tersebut, Rima menyadari dan berfikir Aulia pasti sedang terluka hatinya saat ini.

            Aulia benar-benar sedih seakan kehilangan orang yang ia sayangi di dalam hidupnya. Aulia menghubungi ibu dan menceritakan semuanya, ibu juga sedih karena ibu fikir pasti saat ini Aulia sangat membutuhkan ibu di sampingnya.

            Rima masuk ke kamar Aulia tanpa disadari Aulia dan ia mendengar semua percakapan Aulia ke ibu. Rima benar-benar menyesal karena sudah bicara seperti itu kepada sahabat terbaiknya. Ia sadar bahwa apa yang di bicarakan Aulia semua benar dan demi kebaikannya juga. Ia juga sadar bahwa kemarahan dan sikap egois hanya membuat keadaan semakin memburuk, apabila ia bisa menahan sedikit saja kemarahannya, semua tidak akan sedih seperti ini.       

             

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu

menahan dirinya saat marah”.

( HR. Bukhori dan Muslim)

Pagi hari saat Aulia bangun, ia sudah melihat sarapan di atas meja dan sudah ada Rima. Sebelum Rima memulai pembicaraan, Aulia terlebih dahulu meminta maaf, ia bicara bahwa tidak seharusnya ia mencampuri urusan Rima. Tetapi Rima pikir sudah seharusnya sebagai sahabat untuk saling mengingatkan. Mereka saling sadar letak kesalahan mereka masing-masing dan semua keadaan kembali seperti biasa lagi.

            Saling sadar diri dan memaafkan satu sama lain adalah keputusan besar untuk menggugurkan haknya yang bukanlah perkara mudah. Ada hak untuk mengungkit rasa sakit hati, dendam atau membalas perlakuan yang pernah dideritanya, namun semua keadaan akan memburuk jika tidak ada pintu maaf yang akan menghadirkan kembali rasa bahagia.

            Persahabatan ini bagaikan pelangi yang tak selalu terlihat namun kehadirannya bisa menjadikan hati jauh lebih tenang dan memberikan rasa nyaman. Banyak yang bilang bahwa permasalahan yang muncul dalam persahabatan sebenarnya menjadikan hubungan sahabat itu semakin erat bila di selesaikan dengan baik. Tidak akan menarik jika tidak ada masalah, semakin besar masalah yang dihadapi, semakin besar pula hari baik itu akan tiba memberi warna.

            Persahabatan juga bisa dikatakan sebagai kesehatan untuk diri kita karena nilainya akan kita hargai setelah merasakan kehilangan. Di saat keheningan di antara keduanya mulai terasa nyaman.

 

 

Each Friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born.”

- Anais Nin

Saat ini semua tampak berjalan dengan lancar, setelah banyak hal yang membuat Aulia terpuruk namun tidak melunturkan semangatnya dalam menggapai cita-citanya. Bahkan hari-hari yang ia jalani semakin membuatnya semangat karena masih dikelilingi orang-orang baik.

Sekarang sudah hampir kurang lebih 3 tahun Aulia merantau dan jauh dari kampung halamannya, tetapi sesekali ia pulang saat libur panjang dan lebaran. Perkuliahannya berjalan dengan lancar sama seperti teman-teman lainnya walaupun berbeda secara kondisi ekonomi. Tetapi tak masalah baginya.

Saat ini Aulia sudah menyelesaikan skripsinya. Uang tabungan yang ia kumpulkan akan digunakan untuk biaya ibunya menghadiri wisudanya di Borneo. Ia memberitahu kabar baik ini lewat telepon, ibu pun segera pergi bersama orang tua Rima. Dengan perasaan bangga dan terharu karena bisa menyekolahkan anaknya hingga ke Perguruan Tinggi dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan.  

Pelangi di hidup Aulia bersinar lebih terang saat ini, ia sudah membuktikan bahwa selagi ada kemampuan dan semangat serta pertolongan-Nya,  apapun bisa dicapai. Namun tak berhenti sampai disitu, perjalanan Aulia menuju sukses baru dimulai. Pelangi yang hanya tiba saat selesai hujan maupun badai ini akan kembali lagi setelah hujan berkali-kali.

Setelah Aulia menyelesaikan pendidikannya, ia pulang ke kampung. Aulia tidak langsung bekerja karena kesulitan mendapatkan pekerjaan. Lamaran demi lamaran pekerjaan sudah ia masukkan tetapi tidak satu pun ada yang menerima karena saat ini sedang pandemi COVID-19 banyak perusahaan tidak menerima karyawan dengan jumlah yang banyak. Sambil menunggu pekerjaan yang ia dapatkan, ia mulai berjualan kue lagi bersama ibu. Kali ini ia tidak menjualnya keliling kampung tetapi ia memasarkan kue tersebut secara online.

Saat pandemi COVID-19 ini pemesanan semakin maningkat karena banyak yang tidak keluar rumah. Pesanan yang datang tidak hanya dari kampung dan sekitarnya saja, ia juga sudah mendapatkan pelanggan dari luar kota yang tak lain adalah teman-teman sekampusnya dulu yang dikirim melalui jasa pengiriman. Hasil dari penjualan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan lebihnya selalu ia tabung.

Dengan keahlian bisnis yang ia dapatkan saat kuliah dan keahlian membuat kue yang ia dapatkan dari ibu, ia memberanikan untuk membuka toko kue kecil-kecilan bernama ‘Pelangi bakerry’ dengan modal yang ia kumpulkan selama berjualan online. Ternyata banyak sekali yang menyukai kue tersebut dan pelanggan mulai banyak, ia memanfaatkan Sosial Media yang ia miliki untuk promosi dan dibantu dengan kakaknya.

Ibu yang samakin hari semakin tua tidak mampu lagi untuk membantu Aulia karena penyakit ibu pun mulai kambuh. Aulia harus membawa ibu ke Rumah Sakit, ternyata ibu harus di operasi. tanpa pikir panjang, Aulia segera menanda tangani surat keputusan operasi.

Hasil dari tabungan ia mulai menipis karena harus membiayai perawatan ibu di Rumah Sakit. Aulia sekarang harus bekerja lebih, dan untungnya semua membuahkan hasil yang baik. Pelangi Bakerry miliknya diajak bekerjasama dengan kedai minuman yang cukup terkenal di daerahnya.  Mendengar kabar baik ini, keadaan ibu pun ikut membaik.

Usaha yang dimiliki Aulia sekarang sudah berjalan 6 tahun dan sudah memiliki 3 cabang di daerahnya dan 1 di luar kota. Hasil kerja keras dan kesabaran Aulia ini membuahkan hasil yang baik, bahkan sekarang Aulia dan ibu sudah pergi ke tanah Suci yang diinginkan sejak dulu.

Komentar